PESANTREN SEBAGAI PUSAT KONSERVASI MORAL

PESANTREN SEBAGAI PUSAT KONSERVASI MORAL

Begitu pendek waktu yang dimiliki oleh seorang manusia pada umumnya untuk menjalani kehidupan di Dunia ini. Sebagaimana Allah mengingatkan kita melalui firmannya didalam al-Qur’an Surat al-Asr bahwasanya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Pada mulanya kita dilahirkan, lalu tumbuh menjadi dewasa, kemudian tua dan setelah itu mati. Maka tak ada seorangpun yang mampu menghentikan perjalanan waktu walau hanya sedetik.

Pelan memang waktu itu berjalan, namun bagi siapapun yang kurang menyadarinya ia akan nampak begitu sangat cepat.Rasanya baru kemarin kita lepas dari buaian kasih ibu dengan segala kehangatannya, kini kita telah tumbuh menjadi manusia dewasa dan lengkap dengan segudang persoalan serta tanggung jawab.

Perlahan tapi pasti dikala waktunya tiba, kita akan berada pada ujung kehidupan ini. Tubuh mulai hilang keseimbangan, badan mulai keriput dan satu persatu kekuatan yang ada dalam diri kita mulai pergi dan meninggalkan kita serta kemudian ajal benar-benar menyapa, maka pada akhirnya kita akan lenyap dan sirna dari muka bumi ini.Sadar akan kenyataan ini, nenek moyang kita menitipkan petuah yang indah kepada anak-cucu mereka, yaitu tentang bagaimana semestinya bersikap atas kesementaraan dan kefanaan hidup ini ;

Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, Manusia mati meninggalkan budi yang dikenang.

Sebuah pesan sederhana, tapi sesungguhnya mengandung makna filosofis yang mendalam. Tubuh manusia boleh saja lapuk bercampur dengan debu dan menyatu dengan tanah. Namun tidak dengan kenangan atas kehadirannya. Kehadiran yang menorehkan jejak, jejak-jejak kebaikan yang terekam dengan rapi dalam memori orang-orang yang pernah hidup bersamanya. Maka jadikanlah diri kita sebagai seorang pelaku sejarah yang menggoreskan tinta-tinta kebaikan dan kemanfaatan. Akankah kelak kita dikenang anak-anak serta cucu-cucu kita atas segala kebaikan yang pernah kita goreskan dalam sejarah, tentu semua itu berpulang pada diri kita masing-masing.

Untuk mencetak seorang manusia yang mempunyai keindahan dalam dirinya, maka perlu ketelatenan yang tinggi untuk terus membuang sesuatu dalam dirinya yang tidak diperlukan, yaitu sesuatu yang jika dipertahankan hanya akan menodai dirinya, seperti kesombongan, sifat kikir, jiwa pemalas, dan seterusnya. lalu yang tersisa hanyalah sifat-sifat baik yang menjadikan dirinya indah. adapun manusia yang indah adalah manusia yang berhiaskan akhlak karimah. Sosok manusia yang keberadaannya selalu disadari orang lain. Tak pernah ia menyusahkan orang lain, bahkan ia selalu mengulurkan pertolongan bagi siapa saja yang membutuhkan. Tak pernah ia mengobarkan api permusuhan, sebaliknya ia menawarkan cinta dan kasih sayang.

Akan tetapi, akhir-akhir ini banyak kita saksikan sebuah kejadian yang tidak sepatutnya terjadi dan telah benar-benar merusak nilai-nilai moralitas dikalangan para remaja khususnya serta kalangan masyarakat pada umumnya. Remaja yang seharusnya sibuk dengan masa-masa belajar, kini lebih sibuk dengan hal-hal yang justru merusak bahkan mengubur masa depannya sendiri. Padahal, nasib bangsa ini sepuluh sampai dua puluh tahun kedepan ada pada kaki tangan generasi muda hari ini. Bahkan seorang pujangga Mesir yaitu Syaikh Musthofa Al-Ghalayaini mengatakan dalam sebuah bait syairnya :

“Sesungguhnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat,dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat”

Generasi muda yang akan menjadi penopang kemajuan bangsa ini, tentu harus mempunyai kecakapan dalam ilmu, begitupun kecakapan dalam akhlak. Maka tempat pembentukan serta pembinaan ilmu dan akhlak sebagai indikator generasi muda yang hakiki sangat diperlukan pada zaman sekarang ini. Karena melihat lembaga-lembaga sekolah yang sudah melupakan kepentingannya terhadap pembinaan serta pembentukan akhlak karimah. Pelajaran-pelajaran agama yang kini hanya meninggalkan teori-teori yang membingungkan para siswanya serta melupakan pentingnya aplikasi nyata dari segudang teori agama tersebut.

Maka, sungguh sangat diperlukan tempat yang memadukan antara teori agama dan aplikasinya sebagai wujud nyata pembentukan serta pembinaan akhlak karimah sehingga melahirkan generasi muda yang cakap dalam ilmu serta akhlaknya.Sayup-sayup lantunan suara adzan terdengar merdu dari atas menara masjid yang menjadi tempat bermunajat para santri & santriwati kepada Sang Kholiqul Makhluk, ayunan langkah kaki para santri & santriwati membuat suasana pagi menjadi terasa tidak lagi sunyi dan sepi.

Tapi, kabut pagi dicampur udara yang sangat dingin masih terlihat menyelimuti setiap sudut tempat-tempatnya. Begitulah suasana kehidupan pesantren pada umumnya, dimana nilai-nilai keagamaan sebagai bagian dari pembentukan dan pembinaan moral menjadi kebiasaan sehari-hari para santrinya. Maka dari itu, menurut pengamatan saya secara pribadi Pesantren adalah sebagai pusat bahkan satu-satunya pembentukan dan pembinaan moral yang senantiasa memadukan antara teori dan aplikasi yang akan melahirkan para generasi pemuda hakiki.

Pesantren dengan segala keterbatasannya selalu membina para santrinya dengan tulus ikhlas untuk terus bisa  mendapatkan ilmu, pendidikan, keterampilan, pengalaman, dan juga falsafah kehidupan sebagai bekal masa depan generasi muda dikemudian hari nanti. Bahkan Pesantren memberikan sebuah model pendidikan yang jauh melompati teori-teori dan juga ribuan materi belaka, yaitu model pendidikan kejujuran, keikhlasan, kepercayaan, kegigihan (perjuangan) secara realita dan fakta dilapangan sehingga para santri bisa merasakan langsung arti antara kebohongan dan kejujuran, antara pengkhianatan dan kepercayaan, antara keikhlasan dan ketidak ikhlasan, juga antara kemalasan dan kegigihan (perjuangan). Diantara sekian banyak model pendidikan realita dan fakta sebagai implementasi dari segudang teori & materi yang diberikan oleh para kyai dan guru-guru kepada para santrinya, yaitu ;

  1. Penanaman Sifat Kejujuran
  2. Penanaman Sifat Keikhlasan
  3. Penanaman Sifat Toleransi
  4. Penanaman Sifat Perjuangan
  5. Penanaman Sifat Bertanggungjawab
  6. Penanaman Kesadaran tentang keseimbangan Dunia & Akhirat.

Maka dengan adanya pesantren sebagai pusat konservasi moral, pembentukan dan pembinaan akhlak akan benar-benar terwujud sehingga terlahirlah manusia-manusia yang cakap dalam ilmu serta akhlak dan benar-benar meninggalkan budi pekerti yang dapat dikenang serta diikuti oleh generasi-generasi selanjutnya.

Gilang Ramadhan

Gilang Ramadhan

Penulis adalah Tutor Bahasa Asing, Pewarta sukabumiNews.net, Content Creator Posciety.com, Relawan Santrimengglobal.com, dan Founder Santrirealistis.com. Hobinya sederhana, Explore Euforia Alam Bebas (Adventure), Travelling Keliling Kota dan Mencicipi Kuliner Khas Daerah. Salam Lestari, Salam Literasi, dari Santri Sukabumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *