Silmatunnisa, Santriwati Asal Sukabumi yang Kini Kuliah di Turki

Silmatunnisa, Santriwati Asal Sukabumi yang Kini Kuliah di Turki
Silma Silmatunnisa, Seorang Santriwati yang Kini Mahasiswi Ankara Sosyal Bilimler Üniversitesi Türkiye.

SANTRIREALISTIS.com – Jika dahulu Santri hanya memiliki kemampuan mengaji saja, kini Santri memiliki banyak potensi-potensi strategis yang cukup banyak diperhitungkan. Gak sedikit juga, tokoh-tokoh besar bangsa ini yang berlatar belakang Santri. Mulai dari pejabat pemerintah, pengusaha-pengusaha besar, seniman, hingga public figur. Secara jenjang pendidikan, banyak Santri yang kini mengambil study tidak hanya didalam negeri tetapi sampai ke keluar negeri dengan berbagai jalur, baik prestasi maupun mandiri.

Cita-cita Santri untuk belajar, baik didalam ataupun diluar negeri harus tetap dijaga agar santri sebagai aset SDM bangsa yang mempunyai potensi keunggulan dan mampu bersaing dengan Dunia Global.

Silma Silmatunnisa, Seorang Santriwati Asal Sukabumi Alumni Pondok Modern Gontor Putri yang juga pernah mengenyam Pendidikan di Pondok Modern Assalam bercerita tentang Perjuangannya sampai menjadi Mahasiswi Ankara Sosyal Bilimler Üniversitesi Türkiye saat ini.

BACA JUGA : Pondok Modern Assalam Tingkatkan Mutu Para Guru Sebagai Upaya Ciptakan Pendidikan Berkualitas

Ketika masa Pertengahan Pengabdian di Gontor Putri tepatnya tahun 2018, Saya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah ke Luar Negri. Namun bukan ke negara timur tengah seperti kebanyakan para alumni pesantren pada umumnya. Melainkan ke negara yang unik dan multikultural  dengan dua benua, sebut saja negara Turki.

Mengapa Turki ? Karena  Turki kaya akan sejarah, terutama sejarah pada Masa Utsmani. Namun, ketika itu saya akui bahwa sangat minimnya informasi bagaimana langkah yang harus dilakukan untuk bisa masuk ke salah satu universitas di Turki tersebut. Karena pengabdian di Gontor Putri tidak dibolehkan membawa alat elektronik seperti Handphone, Laptop, dan lainnya.

Namun ada satu waktu untuk bisa mengunjungi DCC (Darussalam Computer Center) atau kita biasa mengenalnya dengan sebutan WARNET (Warung Internet), tetapi itupun dengan komputer yang sangat terbatas.

Setelah  beberapa kali mengunjungi DCC, sedikitnya Saya dan teman-teman mendapatkan berbagai macam informasi untuk bisa masuk ke Universitas Turki salah satunya melalui Program YTB (Turkiye Burslari/Turkiye Scholarship) atau beasiswa yang diberikan langsung oleh Pemerintah Turki untuk jenjang Program S1, S2, S3, Mahasiswa Internasional.

Singkat cerita, Tibalah saatnya masa-masa akhir deadline Apply YTB, pada saat itu Saya memutuskan untuk pulang ke Sukabumi karena di Pondok Modern Assalam akan diadakan pengarahan Apply YTB (Turkiye Burslari Scholarships) oleh Ustadz yang berpengalaman di bidangnya.

Selesai Apply YTB, maka tinggal menunggu pengumuman satu bulan mendatang. Namun sayangnya, ternyata Saya belum diterima untuk program beasiswa ini. Tapi ini tak membuat patah semangat untuk bisa ke Turki dengan jalur lain.

Jalur lain selain YTB yaitu jalur mandiri dengan menggunakan hasil ujian  YÖS.  YÖS adalah ujian seleski masuk universitas semacam SBMPTN, namun untuk masuk ke Perguruan Tinggi di Turki. Ujian  YÖS yang akan saya ikuti adalah ujian yang diselenggarakan oleh Istanbul Univesitesi, atau IU YÖS. Setiap tahun kampus tertua di Istanbul ini mengadakan ujian yang mana tempatnya di berbagai macam negara, dan Indonesia adalah salah satunya. Ujian ini dilaksanakan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

BACA JUGA : Kisah Santriwati Asal Sukabumi Isi Aktivitas Selama Lockdown Di Mesir

Di tahun 2019 lalu, saya bulatkan niat dan tekad untuk mempersiapkan ujian ini. Walau saat itu posisi saya sedang mengabdi di Pondok Modern Assalam untuk tahun kedua Pengabdian. Saya yang diposisikan sebagai Pengasuhan dengan berbagai macam kegiatan yang dihadapi, berbagai macam santriwati yang harus diayomi, terlebih belum lagi jika ada wali santri yang datang ke kantor dengan keluhan anaknya.

Dalam situasi dan kondisi seperti ini, tidak membuat saya putus asa untuk menghadai ujian  YÖS tersebut. Setidaknya dalam satu minggu saya harus menyelesaikan  3 lembar soal-soal yang saat itu saya dibimbing oleh seorang guru di Assalam yang kompeten dibidangnya.

Hari terus berlalu, tibalah dimana ujian  YÖS dilaksanakan. Ujian dilaksanakan malam hari pukul 20.00-22.00 WIB yang langsung dikawal oleh Dosen – Dosen dari Istanbul Üniversitesi Türkiye. Satu minggu kemudian, nilai ujian sudah bisa dilihat di website. Namun ternyata nilai ujian  YÖS yang saya peroleh tidak mencukupi untuk masuk PTN di Turki. Maka, untuk yang kedua kalinya ternyata saya masih belum berhasil.

Dua hari setelah ujian  YÖS, ayah mengintruksikan untuk mengikuti ujian seleksi ke Mesir melalui jalur Kedubes. Tanpa persiapan yang matang saya pun mengikuti ujian tersebut. Satu minggu kemudian ada informasi dari pihak kedubes bahwa tiga dari enam orang yang mengikuti ujian saat itu dari Santri Assalam dinyatakan lolos dan berhak mendapatkan beasiswa ini. Dan saya adalah salah satu dari tiga orang itu.

Perasaan tak menentu, apakah saya harus senang atau sedih. Dalam benak saya hanya ada satu kalimat : ”Tetap ingin ke Turki” Bisik hati saya. Berkas-berkas yang diminta oleh Kedubes satu per satu saya kumpulkan walau harus bolak balik ke Jakarta dan Bandung. Mulai dari SKCK, berkas-berkas pribadi yang diterjemahkan ke Bahasa Arab dan lain-lain.

Pada bulan Oktober 2019, ada salah satu teman saya yang juga seangkatan namun berbeda kampus mengirim saya Direct Massage (DM) di instagram untuk membantu like postingannya dalam program IYS (Istanbul Youth Summit) tahun 2020 mendatang.

Ternyata setelah satu bulan kemudian, saya melihat story Instagramnya dan tenyata teman saya ini sudah berada di Turki. Bukan untuk mengikuti program IYS, seperti yang ia pernah sampaikan pada awal oktober, melainkan untuk melanjutkan studi di Turki, tepatnya di Kota Ankara.

Mendengar kabar ini, saya langsung antusias dan banyak bertanya tentang proses perjalanannya sampai bisa diterima di salah satu kampus Ibu Kota Turki. Saya sampaikan kepadanya bahwa sampai saat ini belum berhasil, dan sempat dua kali selama 2 tahun berturut-turut belum berhasil untuk bisa Kuliah di Turki.

Saya menggunakan bahasa belum berhasil, karna saya yakin tidak ada seorang pun yang gagal melainkan belum berhasil. Dari percakapan kami di Instagram yang hanya memohon bantuan like postingannya, hingga ternyata teman saya ini lah yang membantu proses perjalanan saya menuju Turki saat ini. Dari berkas-berkas dan persyaratan yang harus di apply, hingga semua kebutuhan meliputi tempat tinggal dan lainnya juga ia yang membantu.

Pada awal tahun 2020, Saya mencari banyak informasi seputar lembaga-lembaga yang bisa memfasilitasi saya untuk mempersiapkan Test IELTS. Karena salah satu syarat untuk jalur langsung Apply ke kampus yang saya tuju ini adalah Score IELTS. Mengapa demikian ? karena kampus tersebut adalah kampus yang Full berbahasa Inggris.

Sampai pada akhirnya, walau dengan keadaan yang sangat mendesak sekali karena pada tahun ini terjadi lockdown dimana-mana sehingga saya tidak bisa langsung belajar offline di lembaga tersebut. Saya kuatkan tekad untuk mengikuti Test IELTS di IDP Bandung pada bulan Agustus. Setelah 14 hari, keluarlah hasil testnya dan dengan hasil tersebut saya gunakan untuk Apply ke kampus tujuan.

Masih dengan harapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya,  saya harap dengan langkah ini saya dapat diterima di kampus tersebut. Tak peduli bagaimana hasilnya, yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya yakin Allah tidak tidur, Allah SWT melihat usaha hambanya yang  sunggung-sungguh dan bertawakal dan saya yakin pertolongan Allah itu pasti ada.

Kurang lebih 2 minggu setelah tanggal apply, saya mendapatkan email dari kampus bahwasannya nama saya Silma Silmatunnisa diterima di kampus tersebut. Jujur saja, setelah melihat kabar ini, saya menangis terharu teringat banyak usaha-usaha yang sudah saya perjuangkan dan tidak sedikit mengeluarkan tenaga, fikiran, juga materi.

Allah SWT Maha Adil, Maha Baik, Maha Bijaksana. Ternyata memang benar, pertolongan Allah itu benar-benar ada. Siapa sangka Allah SWT mengirimkan saya seorang teman yang sebenarnya belum saya kenal sebelumnya, memang kami satu angkatan, tapi berbeda kampus.

Kami bahkan tidak pernah berkomunikasi sebelumnya, hanya pernah tidak sengaja berpapasan disalah satu gedung di Gontor Putri 1 kala itu. Ternyata, dia adalah wasilah yang Allah berikan untuk membantu saya menuju Turki. Walau jalur yang saya tempuh saat ini adalah jalur pemberkasan mandiri, tapi belum tentu orang yang mampu dalam segi materi bisa lolos. Kalaulah Allah SWT tidak berkehendak, maka tidak akan terjadi.

BACA JUGA : UNIDA Gontor Lakukan PPL Prodi Pendidikan Bahasa Arab di Pondok Modern Assalam Sukabumi

Banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil dari teman yang telah membantu saya dalam proses keberhasilan ini. Katanya: “Bantulah siapapun orang yang membutuhkan bantuan kita. Selama kita bisa bantu, bantulah. Karena kita tidak tahu kapan dan siapa yang akan membantu kita. Mungkin saja orang yang kita bantu hari ini, ialah yang akan membantu kita di kemudian hari”.

Terlebih, saya mendengar cerita darinya, Ia pernah dibantu oleh seseorang ketika proses ia ke Turki dan orang yang membantu ia ini ingin berterimakasih, karena dulu ia pernah dibantu oleh kakak dari teman saya.

Maka dari itu ia membalas dengan cara ia membantu adiknya. Inilah yang dimaksud dengan pertolongan yang berkesinambungan. Kita tidak tahu dimana dan kapan kita akan membutuhkan bantuan, maka dari itu selama kita bisa membantu orang lain, maka bantulah ia sekuat tenaga yang bisa kita berikan semaksimal mungkin. 

Redaksi Santri

Redaksi Santri