Pertemuan Pertama yang Istimewa

Pertemuan Pertama yang Istimewa
In Frame : Siti Nurajijah, Nurlena, Siti Malihah

SANTRIREALISTIS.com – Hari itu, setelah selesai shalat subuh dilanjut dzikir dan tadarus berjama’ah di masjid, aku melanjutkan aktivitas piket mingguan sebagai santriwati di pesantren. Tugasku selain mengaji dan mematuhi segala aturan pondok, aku juga diwajibkan kuliah di Perguruan Tinggi milik Pimpinan Pesantren.

Jadwal di hari minggu adalah piket mengasuh putra dan putri Bu Nyai dan Pak Kyai. Tentu dengan senang hati aku melaksanakan tugasku sebagai santriwati yang terbilang baru di pondok ini serta banyak hal yang tidak aku ketahui.

“Teh Nur, hari ini Fatimah dan Adbar ada Les Bahasa Inggris, teteh bisa antar kami tidak ?” Suara khas Fatimah anak ke-5 Bu Nyai yang masih kelas 5 Sekolah Dasar berhasil mengagetkanku yang sedang asyik menyuapi Rasyid anak bungsunya Bu Nyai.

Namaku Nur, lebih tepatnya Nurfadlah

Benar.. namaku Nur lebih tepatnya Nurfadlah, aku terlahir dari keluarga sederhana dan dipertemukan dengan Pondok luar biasa ini yang dengan baik hati memberikan beasiswa untuk banyak santri dan santriwati salah satunya aku.

Segera aku iyakan permintaan Fatimah, karena memang sudah seharusnya anak kelas 3 dan 1 ini diantar kemanapun mereka pergi, masih sangat terlalu kecil tentunya jika harus pergi sendiri.

“Boleh, teteh sama aa siap-siap dulu aja yaa.. dibantu sama teh Mira. Teh Nur mau cari santri ikhwan dulu buat nganternya” Dengan senyum ramah nya Fatimah mengiyakan

Mereka anak-anak yang sopan dan sederhana, meski berjejer mobil yang keluarga mereka miliki. Mereka lebih suka diantar menggunakan sepeda motor baik ke sekolah ataupun ke tempat les. Hal yang selalu membuat Bu Nyai khawatir tetapi justru membuat mereka senang karena katanya kesekolah naik motor lebih seru juga tidak terkena macet. Begitulah mereka, menggemaskan dengan segala kesederhanaannya meskipun terlahir dari keluarga yang luar biasa.

“Assalamualaikum, mohon maaf kang hari ini teh Fatimah dan aa Adbar ada les Bahasa, ada yang bisa antar tidak ?” Kami memang terbiasa memanggil putra dan putri bu nyai dengan sebutan aa dan teteh, karena tidak sopan rasanya jika memanggil nama meski usia kami terpaut dan teramat jauh. Karena sama-sama kami ketahui bahwa mahabbah bukan hanya sekedar pada guru, akan tetapi juga harus kepada keluarganya juga termasuk putra dan putri beliau. Oleh sebab itu, kami tidak pernah keberatan jika harus memanggil mereka demikian.

“Waalaikumusslam, pake motor atau mobil teh ?” jawab seorang akang santri yang keluar dari kantor keamaan menghampiri aku yang sedang berdiri di halaman kantor tersebut. Mereka, para akang-akang santri memang sengaja ada di tempat itu untuk memudahkan kami jika sedang piket di rumah Pimpinan dan membutuhkan bantuan untuk diantar ke pasar.

‘Motor itu Menjadi Saksi Kekagumanku Terhadapnya’

“Pake motor aja Kang” Aku jawab pertanyaan akang santri tersebut kemudian pamit pergi untuk menemui Fatimah. Disepanjang jalan menuju Rumah Pimpinan, aku tak berhenti berfikir dan mengingat, rasanya selama hampir setahun aku disini aku baru pertama kali melihat akang santri barusan. Kami memang berbeda komplek akan tetapi diawal masuk dulu, pondok ini mengadakan perkenalan di aula dan tentu nya kami bisa tau satu sama lain baik terhadap satu angkatan ataupun senior.

Mungkin aku lupa, fikirku kembali karena jika ia santri baru pun tidak mungkin, toh pondok ini tidak menerima santri baru di pertengahan tahun bukan ? Ah sudahlah apa apaan aku ini, memikirkan hal yang tidak penting.

Saat diperjalanan, aku dan Fatimah duduk dibelakang, adbar duduk di depan. Mereka tak berhenti bercerita dengan akang santri ini, terlihat sangan akrab dan sangat dekat.

“Teh Nur kok diam saja, Fatimah hampir sampai ini. Teh Nur pulang ajaa.. nggak usah ditungguin, nanti jemput aja jam 2 sore yaa..” ujar Fatimah dengan sangat lembut, aku mengangguk mengiyakan.

Setelah megantar mereka ke kelas, aku bergegas pulang dengan perasaan aneh saat menaiki motor.

Redaksi Santri

Redaksi Santri